JINGITIU DI ANTARA STIGMA KAFIR DAN KEARIFAN LOKAL SABU: SEBUAH ARKEOLOGI MAKNA DALAM RUANG KOSMIS
Oleh: Gud Reacht Hayat Padje (Opa Yat)
Di hamparan savana dan gumuk-gumuk
batu kapur Pulau Sabu, terdengar gemuruh sunyi yang bukan berasal dari angin atau
laut Sawu. Ia adalah gemuruh metaforis—pergulatan suatu sistem makna yang bernama
Jingitiu. Dalam peta keagamaan Indonesia yang kerap dipahami secara monolitik, Jingitiu
sering kali terperangkap dalam dikotomi simplistis: di satu sisi ia dicap sebagai
“kekafiran” oleh pandangan teologis yang hegemonik, di sisi lain ia dirayakan sebagai
“kearifan lokal” oleh narasi kebudayaan yang romantik. Kedua posisi ini, meski tampak
berseberangan, sesungguhnya sama-sama merupakan bentuk penjinakan terhadap suatu
kosmologi yang hidup dan bernapas. Jingitiu, pada hakikatnya, adalah sebuah gramatika
kosmis—cara manusia Sabu mengeja langit, mengartikulasikan bumi, dan menemukan
ritme diri dalam dialektika antara Deo Ama (Sang Sumber) dan jejak-jejak
leluhur di tanah Rae Hawu.
Stigma “kafir” yang dilekatkan pada
Jingitiu adalah anak kandung dari paradigma keselamatan yang linear dan eksklusif.
Ia adalah proyeksi ketakutan terhadap bentuk-bentuk sakralitas yang tidak mudah
dikategorikan, yang meresap dalam setiap ritual menanam, melaut, dan menganyam.
Kekafiran di sini bukanlah penolakan terhadap Tuhan, melainkan ketidakmampuan mata
asing untuk membaca alfabet simbol yang berbeda. Jingitiu berbicara dalam bahasa
metafora: leluhur adalah gunung yang diam namun menyimpan sejarah; Deo Ama
adalah langit yang tak terjangkau namun hadir dalam hujan yang membasahi ladang.
Dalam tataran filosofis, apa yang disebut “kafir” sesungguhnya adalah epistemologi
partisipatoris, di mana manusia bukanlah hamba yang pasif, melainkan mitra yang
aktif dalam merawat keseimbangan kosmos. Setiap upacara Bhui Ihi (penyucian
diri) bukanlah pemujaan berhala, melainkan sebuah puisi ritual yang menegaskan
kembali ikatan segitiga antara manusia, alam, dan yang transenden.
Di ujung spektrum yang lain, pengkotakan
Jingitiu sebagai sekadar “kearifan lokal” juga mengandung bahaya reduksionisme.
Istilah ini, meski bernada apresiatif, sering kali mengurung Jingitiu dalam ruang
folkloristik yang steril, menjadi artefak budaya yang dipajang dalam festival, kehilangan
nafas ontologisnya. Kearifan lokal bisa menjadi museum tanpa dinding, tempat Jingitiu
diagungkan sebagai simbol identitas namun dicerabut dari jantung spiritualitasnya.
Padahal, Jingitiu adalah filsafat praktis tentang bagaimana menjalani hidup
yang terhubung. Ia adalah etika ekologis jangka panjang yang melihat pohon
lontar (Borassus flabellifer) bukan hanya sumber gula, tetapi saudara dalam
jaringan kehidupan; laut bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi ranjang tidur nenek
moyang yang harus dihormati.
Maka, Jingitiu berada dalam suatu
ruang liminal, di persimpangan antara stigmatisasi dan folklorisasi. Untuk memahaminya,
kita perlu pendekatan yang lebih dalam: melihatnya sebagai kosmologi yang bernyawa.
Ia adalah sebuah sistem pengetahuan yang dibangun melalui dialektika antara memori
kolektif dan pengalaman langsung dengan bentang alam Sabu yang keras nan puitis.
Setiap batu, sumur, dan pohon tertentu (tarru dhuru dan tarru wui)
adalah teks suci yang terbuka, menunggu untuk dibaca dengan kesadaran yang
partisipatif. Dalam Jingitiu, yang sakral tidak bertempat di surga yang jauh, melainkan
terimbas dalam keseharian—dalam pekerjaan tangan perempuan menenun, dalam
langkah kaki laki-laki menofa ladang, dalam heningnya malam ketika doa-doa leluhur
dibisikkan ke angin.
Pada akhirnya, pergulatan Jingitiu
melampaui polemik “kafir atau arif”. Ia adalah cermin bagi kita semua tentang cara
kita memahami Yang Lain. Ia mengajak kita untuk tidak lagi melihat dengan
kacamata dikotomis yang memisahkan, tetapi dengan hati yang mampu menyelami logika
lain dalam memahami misteri keberadaan. Jingitiu adalah suara dari Rai Hawu
yang berbisik: bahwa iman dapat berwujud dalam kesetiaan pada siklus alam, bahwa
spiritualitas dapat terungkap dalam rasa syukur atas seteguk air hujan, dan bahwa
kebijaksanaan sejati sering kali tersembunyi di balik stigma, menunggu untuk dikenali
bukan sebagai “kafir” atau “lokal”, tetapi sebagai sebentuk kebenaran yang hidup
dan merunduk, seperti ilalang di savana Sabu, lentur namun berakar kuat di tanah
leluhurnya. Di sanalah ia berdiri, bukan sebagai antitesis, tetapi sebagai sintesis
yang sunyi, mengajarkan kita tentang kerendahan hati epistemik dalam menghadapi
samudera makna yang tak pernah habis tergarap.
***
