Translate

Minggu, 08 Februari 2026

JINGITIU DI ANTARA STIGMA KAFIR DAN KEARIFAN LOKAL SABU: SEBUAH ARKEOLOGI MAKNA DALAM RUANG KOSMIS

Oleh: Gud Reacht Hayat Padje (Opa Yat)

Di hamparan savana dan gumuk-gumuk batu kapur Pulau Sabu, terdengar gemuruh sunyi yang bukan berasal dari angin atau laut Sawu. Ia adalah gemuruh metaforis—pergulatan suatu sistem makna yang bernama Jingitiu. Dalam peta keagamaan Indonesia yang kerap dipahami secara monolitik, Jingitiu sering kali terperangkap dalam dikotomi simplistis: di satu sisi ia dicap sebagai “kekafiran” oleh pandangan teologis yang hegemonik, di sisi lain ia dirayakan sebagai “kearifan lokal” oleh narasi kebudayaan yang romantik. Kedua posisi ini, meski tampak berseberangan, sesungguhnya sama-sama merupakan bentuk penjinakan terhadap suatu kosmologi yang hidup dan bernapas. Jingitiu, pada hakikatnya, adalah sebuah gramatika kosmis—cara manusia Sabu mengeja langit, mengartikulasikan bumi, dan menemukan ritme diri dalam dialektika antara Deo Ama (Sang Sumber) dan jejak-jejak leluhur di tanah Rae Hawu.

Stigma “kafir” yang dilekatkan pada Jingitiu adalah anak kandung dari paradigma keselamatan yang linear dan eksklusif. Ia adalah proyeksi ketakutan terhadap bentuk-bentuk sakralitas yang tidak mudah dikategorikan, yang meresap dalam setiap ritual menanam, melaut, dan menganyam. Kekafiran di sini bukanlah penolakan terhadap Tuhan, melainkan ketidakmampuan mata asing untuk membaca alfabet simbol yang berbeda. Jingitiu berbicara dalam bahasa metafora: leluhur adalah gunung yang diam namun menyimpan sejarah; Deo Ama adalah langit yang tak terjangkau namun hadir dalam hujan yang membasahi ladang. Dalam tataran filosofis, apa yang disebut “kafir” sesungguhnya adalah epistemologi partisipatoris, di mana manusia bukanlah hamba yang pasif, melainkan mitra yang aktif dalam merawat keseimbangan kosmos. Setiap upacara Bhui Ihi (penyucian diri) bukanlah pemujaan berhala, melainkan sebuah puisi ritual yang menegaskan kembali ikatan segitiga antara manusia, alam, dan yang transenden.

Di ujung spektrum yang lain, pengkotakan Jingitiu sebagai sekadar “kearifan lokal” juga mengandung bahaya reduksionisme. Istilah ini, meski bernada apresiatif, sering kali mengurung Jingitiu dalam ruang folkloristik yang steril, menjadi artefak budaya yang dipajang dalam festival, kehilangan nafas ontologisnya. Kearifan lokal bisa menjadi museum tanpa dinding, tempat Jingitiu diagungkan sebagai simbol identitas namun dicerabut dari jantung spiritualitasnya. Padahal, Jingitiu adalah filsafat praktis tentang bagaimana menjalani hidup yang terhubung. Ia adalah etika ekologis jangka panjang yang melihat pohon lontar (Borassus flabellifer) bukan hanya sumber gula, tetapi saudara dalam jaringan kehidupan; laut bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi ranjang tidur nenek moyang yang harus dihormati.

Maka, Jingitiu berada dalam suatu ruang liminal, di persimpangan antara stigmatisasi dan folklorisasi. Untuk memahaminya, kita perlu pendekatan yang lebih dalam: melihatnya sebagai kosmologi yang bernyawa. Ia adalah sebuah sistem pengetahuan yang dibangun melalui dialektika antara memori kolektif dan pengalaman langsung dengan bentang alam Sabu yang keras nan puitis. Setiap batu, sumur, dan pohon tertentu (tarru dhuru dan tarru wui) adalah teks suci yang terbuka, menunggu untuk dibaca dengan kesadaran yang partisipatif. Dalam Jingitiu, yang sakral tidak bertempat di surga yang jauh, melainkan terimbas dalam keseharian—dalam pekerjaan tangan perempuan menenun, dalam langkah kaki laki-laki menofa ladang, dalam heningnya malam ketika doa-doa leluhur dibisikkan ke angin.

Pada akhirnya, pergulatan Jingitiu melampaui polemik “kafir atau arif”. Ia adalah cermin bagi kita semua tentang cara kita memahami Yang Lain. Ia mengajak kita untuk tidak lagi melihat dengan kacamata dikotomis yang memisahkan, tetapi dengan hati yang mampu menyelami logika lain dalam memahami misteri keberadaan. Jingitiu adalah suara dari Rai Hawu yang berbisik: bahwa iman dapat berwujud dalam kesetiaan pada siklus alam, bahwa spiritualitas dapat terungkap dalam rasa syukur atas seteguk air hujan, dan bahwa kebijaksanaan sejati sering kali tersembunyi di balik stigma, menunggu untuk dikenali bukan sebagai “kafir” atau “lokal”, tetapi sebagai sebentuk kebenaran yang hidup dan merunduk, seperti ilalang di savana Sabu, lentur namun berakar kuat di tanah leluhurnya. Di sanalah ia berdiri, bukan sebagai antitesis, tetapi sebagai sintesis yang sunyi, mengajarkan kita tentang kerendahan hati epistemik dalam menghadapi samudera makna yang tak pernah habis tergarap.

 ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar